Pengertian Alat Pembayaran Non Tunai

Posting Komentar

Pengertian Alat Pembayaran Non Tunai — Perkembangan teknologi kian berkembang dengan begitu pesatnya di dunia finansial. Hari ini di dalam menjalankan aktifitas bisnis seperti bertransaksi jual-beli, masyarakat Indonesia termasuk di Soreang, Kabupaten Bandung – menggunakan alat pembayaran non tunai. 

Pengertian Alat Pembayaran Non Tunai

Pengertian Alat Pembayaran Non Tunai

Bagi masyarakat yang sudah faham dengan alat pembayaran non tunai, melakukan pembayaran seperti itu sudah menjadi hal yang biasa dilakukan. Tapi bagi sebagiannya lagi, tidak jarang juga yang masih ragu-ragu untuk memilih menggunakan metode cashless atau non tunai saat bertransaksi jual-beli. Berikut ini uraiannya.

Menurut OJK (Otoritas Jasa Keuangan)

Alat pembayaran non tunai atau cashless merupakan alat yang sebagian masyarakat pergunakan ketika melakukan pembayaran tanpa uang fisik baik keping atau kertas. Yang mereka pergunakan antara lain; cek, giro, kartu kredit, debit dan uang elektronik.

Menurut OJK (Otoritas Jasa Keuangan), alat pembayaran non tunai atau yang lazim disebut dengan cashless mampu menjadi jalan keluar bagi sistem pembayaran dengan nilai transaksi kecil yang merujuk pada transaksi dalam format pembayaran digital.

8 Contoh Alat Pembayaran Non Tunai

Jamak alat pembayaran non tunai dan bisa dibedakan menjadi tiga bentuk, antara lain kertas, kartu dan elektronik. Ketiga bentuk alat pembayaran tersebut merupakan contoh-contoh inovasi dari perkembangan teknologi alat pembayaran non tunai.

Ada 8 bantuk alat pembayaran yang dapat menjadi contoh.

  1. Kartu Kredit. Contoh yang pertama adalah kartu kredit, bank adalah pihak yang memiliki wewenang mengeluarkan alat pembayaran non tunai ini. Mekanismenya, bank memberikan utang kepada pemegang kartu kredit saat melakukan transaksi. Total transaksi yang telah pemegang kartu kredit lakukan akan dijumlahkan dalam jangka waktu tertentu yang akan ditagihkan – misalnya satu bulan.
  2. Kartu Debit. Contoh kedua, kartu debit – ini termasuk jenis alat pembayaran non tunai dalam bentuk saldo hasil dari pemegang kartu ketika menabung. Jadi, uang yang dipergunakan saat bertransaksi adalah saldo milik pemegang kartu debit yang bersangkutan. Umumnya, bank yang menerbitkan kartu debit membatasi jumlah untuk bertransaksi.
  3. Kartu Prabayar. Untuk contoh ke-3 ini berbeda dengan dua contoh sebelumnya, tidak bersistem utang dan tidak juga berdasarkan jumlah saldo tabungan pemegangnya. Kartu prabayar memiliki nilai saldo hingga nol rupiah. Pada saat kartu tersebut bersaldo kosong, pemilikinya bisa memilih untuk mengisi ulang atau menghentikan pemakaiannya tanpa ada sanksi atau denda.
  4. Cek. Contoh ke-4 adalah alat pembayaran non tunai bentuk kertas atau biasa disebut dengan cek. Fungsi dari cek adalah surat perintah bagi bank agar mencairkan dana dalam jumlah tertentu atas nama nasabah dan nama pihak lain yang biasa tertuang di dalam cek.
  5. Giro. Serupa dengan cek, contoh ke-5 yaitu giro yang juga menjadi surat perintah kepada pihak bank. Hanya saja, giro tidak dapat dipergunakan untuk mencairkan dana namun hanya dapat memindahkan dana dari rekening nasabah ke rekening nasabah lain
  6. e-Money. Contoh berikutnya adalah electronic money (e-money). e-Money yang saat ini beredar dan palinig jamak orang menggunakannya adalah bentuk kartu atau cloud computing, seperti; kartu FLAZZ, BRIZZI, OVO, GoPay, ShopeePay, DANA dan lain-lain.
  7. Nota Kredit. Contoh ke-7 ini adalah bentuk surat yang dipergunakan nasabah untuk mengirim dan memindahkan uang non tunai ke rekening lain dengan metode kliring. Jenis alat pembayaran non tunai ini lazim untuk transaksi dengan nominal besar.
  8. Nota Debit. Contoh terakhir adalah surat yang berfungsi sebagai alat menagih hutang para nasabah dengan nominal dan jarak waktu tertentu. Para pebisnis biasa menggunakan nota debit untuk kebutuhan transaksi jual-beli antar perusahaan.

Manfaat Alat Pembayaran Non Tunai

Indonesia terbilang memiliki kemajuan yang terbilang signifikan pesat dalam hal aktifitas pembayaran non tunai. Hal ini seiring pula dengan berkembangnya teknologi e-payment yang menjadi fitur unggulan platform-platform digital. 

Beberapa manfaat dari pembayaran non tunai, antara lain;

  • Cepat. Sebagian pemegang e-wallet sangat dimudahkan dengan metode pembayaran non tunai karena tidak perlu mengantongi uang cash. Semua transaksi bisa mereka lakukan tanpa mengeluarkan uang fisik. Tinggal buka ponsel di mana saja dan kapan saja, transaksi berlangsung dengan mudah dan cepat.
  • Lakukan di tempat. Biasanya, ketika kita hendak membayar setelah melakukan transaksi jual-beli – pergi ke ATM. Dan tidak jarang harus rela antri padahal sekadar untuk membayar tagihan telepon, beli token listrik, pulsa atau paket data saja. Solusinya adalah bayar lewat m-Banking atau e-wallet saja, sehingga kita bisa lakukan di tempat tanpa harus beranjak pergi.
  • Lebih aman. Dengan membiasakan melakukan pembayaran non tunai, kita tidak perlu memakai uang tunai dengan nilai yang besar. Semua pembayaran dapat kita lakukan cukup memakai uang yang telah kita simpan di dompet digital yang biasa kita isi (topup), misal: GoPay, Shopeepay, DANA atau OVO. Dan yang paling penting, jauh lebih aman.
  • Histori Keuangan Tercatat dengan Lengkap. Setiap aktifitas pembayaran non tunai, akan ada catatan lengkapnya secara otomatis. Berikut Contoh Histori Transaksi Pembayaran ke Bank lewat e-wallet DANA.
  • Diskon dan Promo. Hari ini jamak di dalam transaksi jual-beli digital, terutama penjual bekerjasama dengan provider pembayaran non tunai memberikan diskon dan promosi. Bentuk promosi yang lazim dilakukan, antara lain; cashback dan discount atau potongan harga saat beli tiket kereta api, pesawat terbang, bioskop, hotel dan tiket masuk tempat wisata dan lain-lain.
  • Perlu diingat, kita harus tetap waspada dan belajar karena masih ada hal-hal yang menjadi kekurangan dari cara transaksi menggunakan alat pembayaran non tunai. Apa saja? Ini dia.

    1. Ada resiko Cyber Crime. Setiap aktifitas transaksi akan diikuti oleh resiko termasuk potensi kejahatan siber. Menyikapi hal ini, pihak penyedia jasa pembayaran digital berupaya membuat sistem keamanan yang maksimal guna mengantisipasi potensi cyber crime.
    2. Ada batasnya. Setiap transaksi yang menggunakan uang elektronik memiliki batasan jumlah maksimal melakukan transaksi per hari. Padahal bisa jadi Anda tengah membutuhkan jumlah transaksi yang lebih banyak dari biasanya.
    3. Akses Internet. Sebuah keharusan saat kita akan melakukan transaksi non tunai butuh akses internet. Satu kali saja hilang koneksi internet maka saat itu pula kita tidak bisa melakukan pembayaran non tunai. Akhirnya semua rencana yang harapannya berjalan cepat dan efektif menjadi buyar.

    Maka pastikan:

    • Anda masih memiliki kesempatan dari jumlah yang dibatasi oleh provider tempat melakukan pembayaran non tunai.
    • Provider mumpuni dan memiliki reputasi yang baik selama menjadi tempat transaksi non tunai.
    • Paket data atau kuota internet yang ada di smarphone Anda lebih dari cukup.

    Kesimpulan

    Dengan memilih alat pembayaran non tunai saat bertransaksi jual-beli, masyarakat akan menilai dan merasakan manfaatnya. Metode ini menawarkan kecepatan dan ketepatan, membantu bagi pengguna yang tidak memiliki banyak waktu untuk bertransaksi secara langsung.

Admin
Rumah Bisnis Soreang merupakan sebuah direktori resmi menginformasikan bisnis di kabupaten Bandung khususnya di kecamatan Soreang.

ARTIKEL LAIN:

Posting Komentar